Minggu, 09 Juni 2013

MITOS "PIL KB"

Cara kerja pil KB terbagi atas :
Pil KB kombinasi (Combined Oral Contraceptives = COC)

Mengandung 2 jenis hormon wanita yaitu : estrogen dan progesteron.

Mekanisme kerjanya untuk mencegah kehamilan adalah sebagai berikut:

- Mencegah pematangan dan pelepasan sel telur
- Mengentalkan lendir leher rahim, sehingga menghalangi penetrasi sperma
- Membuat dinding rongga rahim tidak siap untuk menerima dan menghidupi hasil pembuahan

Pil KB progesteron (Mini pill = Progesterone Only Pill = POP) hanya berisi progesteron, bekerja dengan mengentalkan cairan leher rahim dan membuat kondisi rahim tidak menguntungkan bagi hasil pembuahan.

Pil kontrasepsi oral atau yang populer disebut pil KB telah banyak membantu wanita mengendalikan kehamilan selama setengah abad ini. Tapi masih banyak mitos seputar pil KB yang bertahan hingga saat ini.

Sejak pertama kali ditemukan 50 tahun lalu, pil KB telah mengalami evolusi besar mulai dari ilmu di balik pembuatannya sampai dengan zat aktif yang digunakan.

Ketika pertama kali diluncurkan, pil KB digunakan hanya sebagai pencegah kehamilan. Namun kini, pil KB moderen menawarkan manfaat kesehatan yang luas bagi wanita selain pencegahan kehamilan, seperti mengobati jerawat, membantu mengobati gejala pra-menstruasi dan mengurangi perdarahan menstruasi yang berat.

Seiring perkembangan pil KB yang makin multiguna, mitos seputar pil KB juga tak pernah surut. Sebuah dokumenter dibuat untuk membongkar mitos dan kesalahpahaman yang mengelilingi pil yang kecil tapi dinamis ini.

Dr Phil Smits, pimpinan unit bisnis Global Women's Healthcare Bayer Schering Pharma seperti dikutip Senin (12/7/2010) mengatakan film dokumenter ini bertujuan untuk membantu wanita mengerti lebih jauh mengenai pil KB lebih benar.


20 Mitos Seputar Pil KB dan Fakta Yang Sebenarnya terjadi :

1. Mitos: Pil kontrasepsi menyebabkan kanker
Fakta: Pil kontrasepsi memberikan perlindungan terhadap kanker ovarium dan kanker rahim.

2. Mitos: Pil kontrasepsi menyebabkan cacat lahir
Fakta: Sekitar 100 juta wanita di seluruh dunia telah merasakan keuntungan dari penggunaan pil kontrasepsi. Kualitas hidup telah meningkat dan pil kontrasepsi telah diteliti secara besar-besaran. Sampai saat ini, tidak ada bukti yang menghubungkan konsumsi pil kontrasepsi dengan kejadian cacat lahir.

3. Mitos: Pil kontrasepsi mempengaruhi kesuburan
Fakta: Kebanyakan wanita cepat kembali ke tingkat kesuburan seperti sebelum mengonsumsi pil kontrasepsi segera setelah menghentikan pil kontrasepsi. Kesuburan dipengaruhi oleh usia.

Banyak wanita yang mengonsumsi pil kontrasepsi sebagai bentuk kontrasepsi ketika usia mereka masih lebih muda. Pada saat mereka memutuskan untuk berhenti menggunakan pil kontrasepsi, umur mereka telah mengurangi peluang mereka untuk hamil, sehingga menyebabkan persepsi yang salah bahwa pil mempengaruhi kesuburan.

Sebaliknya, pil kontrasepsi melindungi perempuan dari kehamilan ektopik dan fibroid, kondisi yang mungkin berdampak pada kesuburan. Untuk wanita dengan menstruasi yang tidak teratur sebelum mulai menggunakan pil kontrasepsi, mungkin diperlukan waktu yang singkat sebelum tingkat kesuburan kembali secara normal.

4. Mitos: Pil kontrasepsi hanya digunakan untuk kontrasepsi
Fakta: Selain untuk kontrasepsi, pil kontrasepsi juga efektif dalam mengurangi nyeri ovulasi, kram pada saat menstruasi dan gejala PMS.

Hal ini dapat mengurangi risiko anemia yang umum ditemukan pada perempuan yang mengalami perdarahan menstruasi yang berat. Pil kontrasepsi juga melindungi perempuan dari kehamilan ektopik, osteoporosis, kista ovarium dan kanker ovarium.

5. Mitos: Pil kontrasepsi langsung bekerja secara efektif segera setelah dikonsumsi
Fakta: Pil kontrasepsi hanya efektif dari hari pertama jika konsumsi dimulai pada hari pertama menstruasi dan dilanjutkan dikonsumsi setiap hari seperti yang sudah ditentukan. Apabila tidak dikonsumsi pada hari pertama menstruasi, diperlukan metode kontrasepsi tambahan seperti misalnya kondom.

Bagi beberapa wanita, pil kontrasepsi dapat bekerja lebih efektif setelah dikonsumsi satu siklus menstruasi lengkap jika diperlukan lebih banyak waktu untuk bekerja dengan hormon alami wanita untuk mencegah ovulasi.

6. Mitos: Konsumsi pil kontrasepsi dapat menunda menopause
Fakta: Konsumsi pil kontrasepsi tidak dapat menunda menopause. Rata-rata umur pada wanita menopause adalah 51 tahun.

7. Mitos: Pil kontrasepsi menyebabkan pengguguran kehamilan
Fakta: Konsumsi pil kontrasepsi tidak otomatis menyebabkan pengguguran kehamilan. Sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter untuk memastikan kehamilan. Saran lebih lanjut dan instruksi akan diberikan oleh dokter.

Dalam hal hubungan seksual non-konsensual atau kegagalan untuk menggunakan kontrasepsi, pil kontrasepsi darurat (umumnya dikenal sebagai 'morning after pill') dapat digunakan. Jika digunakan dengan benar akan efektif dalam mengurangi kemungkinan kehamilan.

8. Mitos: Semua pil kontrasepsi adalah sama.
Fakta: Terdapat banyak pil kontrasepsi yang tersedia untuk perempuan, dan masing-masing memiliki manfaat berbeda. Selain mencegah kehamilan, pil kontrasepsi baru berdosis rendah memiliki manfaat tambahan termasuk pada pil kontrasepsi yang memperpendek masa bebas hormon dengan menambahkan pil aktif (dari 21 pil aktif menjadi 24 pil aktif) dalam menurunkan gejala menstruasi seperti sakit kepala, kejang dan nyeri payudara.

9. Mitos: Pil kontrasepsi tidak aman.
Fakta: Sejak diperkenalkan hampir 50 tahun lalu, pil kontrasepsi telah menjadi salah satu obat dunia yang paling banyak diteliti dan diresepkan. Seperti obat lainnya, ada beberapa risiko kesehatan yang berhubungan dengan pil kontrasepsi, tetapi efek samping yang serius sangat jarang ketika mereka dikonsumsi sesuai dengan aturan yang ditentukan.

10. Mitos: Pil kontrasepsi dapat menyebabkan jerawat.
Fakta: Pil kontrasepsi modern atau kontrasepsi oral kombinasi tidak menyebabkan jerawat. Bahkan, ada beberapa yang pil kontrasepsi baru berdosis rendah yang tersedia telah disetujui untuk mengobati jerawat derajat sedang.

11. Mitos: Pil kontrasepsi menyebabkan kenaikan berat badan.
Fakta: Ketika memulai pil kontrasepsi baru, beberapa wanita merasa kembung, tetapi ini biasanya membaik dengan waktu. Banyak studi klinis tidak menemukan hubungan antara pil kontrasepsi moderen dosis rendah dengan berat badan.

Salah satu penjelasan untuk kenaikan berat badan mungkin dirasakan bahwa banyak wanita mulai pil kontrasepsi ketika mereka masih muda, pada usia ketika tubuh mereka belum mencapai usia dewasa dan ketika kenaikan berat badan dianggap biasa.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah pil kontrasepsi, dimasukkannya sebuah progestin baru tertentu (hormon) memungkinkan perempuan untuk menghindari retensi air berkaitan dengan estrogen yang dapat menyebabkan penambahan berat badan dan edema.

12. Mitos: Pil kontrasepsi menyebabkan berhentinya menstruasi sama sekali.
Fakta: Beberapa wanita diresepkan pil kontrasepsi oleh dokter mereka untuk membantu mengatur siklus menstruasi mereka. Pil kontrasepsi pada asalnya dirancang untuk meniru siklus menstruasi alami seorang wanita.

Sementara beberapa pil kontrasepsi jenis baru dirancang untuk mengurangi atau menekan menstruasi sepenuhnya, kebanyakan pilihan pil kontrasepsi dosis rendah tidak menghentikan menstruasi dan bahkan dapat mengatur siklus menstruasi yang sangat baik. Namun, durasi dan volume perdarahan menstruasi dapat dikurangi.

13. Mitos: Wanita yang mengonsumsi pil kontrasepsi untuk waktu yang lama harus berhenti
menggunakannya dan mengambil 'masa istirahat' dari pil kontrasepsi sekali-kali.
Fakta: Tidak ada alasan bagi wanita yang sehat untuk mengambil masa istirahat dari penggunaan pil kontrasepsi. Pil kontrasepsi adalah salah satu metode kontrasepsi yang paling efektif dari pilihan yang tersedia dan dengan mengambil masa istirahat akan meningkatkan risiko kejadian kehamilan yang tidak direncanakan apabila aktif secara seksual.

14. Mitos: Pil kontrasepsi memberikan perlindungan terhadap penyakit yang menular secara seksual.
Fakta: Pil kontrasepsi tidak memberikan perlindungan terhadap HIV/AIDS atau apapun penyakit menular seksual lainnya. Cara terbaik untuk mencegah infeksi menular seksual adalah dengan menggunakan kondom atau pantang (abstinensia).

15. Mitos: Antibiotik mempengaruhi efektivitas pil kontrasepsi
Fakta: Kemanjuran kontrasepsi dan tingkat plasma oral kontrasepsi steroid tidak berubah jika diberikan dengan antibiotik yang umum diresepkan.

16. Mitos: Pil kontrasepsi tidak terlalu efektif
Fakta: Ketika dikonsumsi dengan benar dan konsisten, pil kontrasepsi adalah metode kontrasepsi dengan tingkat efektivitas lebih dari 99% dalam mencegah kehamilan. Jika lupa minum pil, tingkat efektivitasnya menurun, sekitar 8% akan terjadi kegagalan kontrasepsi dan kehamilan mungkin terjadi.

17. Mitos: Pil kontrasepsi dapat membunuh sperma
Fakta: Pil kontrasepsi mengandung hormon yang dapat menekan ovulasi dan menghentikan telur untuk dilepaskan dari indung telur dan oleh sebab itu dapat mencegah kehamilan. Pil kontrasepsi tidak dapat membunuh sperma.

18. Mitos: Mengonsumsi pil kontrasepsi pada usia diatas 40 tahun berisiko
Fakta: Pil kontrasepsi dapat dikonsumsi sampai seorang wanita mencapai masa menopause. Namun, apabila wanita perokok berusia lebih dari 35 tahun atau wanita dengan tekanan darah tinggi dan diabetes mengonsumsi pil kontrasepsi, dapat terjadi peningkatan risiko penyakit jantung dan stroke. Mereka harus berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui metode kontrasepsi lain yang lebih cocok untuk kondisi kesehatan mereka.

19. Mitos: Pil kontrasepsi menyebabkan siklus haid berhenti
Fakta: Yang terjadi malah sebaliknya, pil kontrasepsi dapat diresepkan untuk mengatur siklus menstruasi. Pil kontrasepsi juga dapat membantu mengurangi kram menstruasi dan membuat perdarahan menjadi lebih ringan.

Pil KB bisa di pakai sebagai salah satu penanganan untuk wanita yang mengalami amenorhea sekunder akibat ketidakseimbangan hormon. Pil KB merupakan salah satu KB hormonal yang sering dipakai untuk terapi haid yang tidak teratur, nyeri ketika haid, hingga amenorhea sekunder. Karena efeknya dapat memperlancar haid (haid menjadi teratur), maka akan lebih memudahkan dalam menghitung masa subur sehingga lebih mudah merencanakan kehamilan.

Namun demikian, penanganan amenorhea sekunder tergantung pada penyebabnya. Seperti yang telah disebutkan, bahwa penyebab amenorhea sekunder sangat beranekaragam (tidak hanya faktor hormon), tapi juga bisa disebabkan oleh penurunan berat badan yang drastis, olah raga yang berlebihan, obesitas, stres emosional, kelainan endokrin, obat-obatan, prosedur kuretase, kelainan pada rahim, dan lain-lain. Untuk itu, penyebabnya harus diatasi terlebih dahulu.

20. Mitos: Pil kontrasepsi dapat menurunkan libido wanita
Fakta: Ini mungkin benar bagi beberapa wanita karena ditemukan bahwa pil kontrasepsi tertentu dapat menyebabkan peningkatan tingkat hormon seks pengikat globulin yang mengakibatkan penurunan testosteron.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar