Minggu, 09 Juni 2013

Mengapa Sulit Mendapatkan Anak Ke-2,3,4 ??

Banyak pasangan mengeluh, untuk mendapatkan kehamilan anak kedua,lebih sulit dibandingkan anak pertama. Bila sebelumnya langsung "tokcer", kini sangat sulit. Padahal, berbagai cara sudah dilakukan. Dari melepas alat KB, konsultasi ke dokter, minum pil hormon, dan sebagainya.

Apa benar buat mendapatkan anak kedua lebih sulit dibandingkan anak pertama?
Mungkin jadi berbeda dan ibu sulit hamil kedua karena situasinya yang berbeda. Sebelumnya, pasangan bebas dari tekanan serta bebas melakukan hubungan seksual kapan saja.
Kini selain harus membagi perhatian dan waktu buat si kecil, kadang berbagai masalah muncul. Biasanya setelah kelahiran anak pertama, pasangan akan mendapatkan pengalaman baru. Hal-hal baru inilah yang sering memicu emosi masing-masing.Terutama di pihak istri.

Misalnya, ketika anak sakit, sering menangis, kontan akan menimbulkan kekhawatiran. Lalu muncul perasaan sedih, letih, jengkel, marah, yang bercampur-aduk dan menyebabkan ketidakstabilan emosi. Kondisi emosional yang tak stabil sangat menentukan kesuburan wanita. Sebab, produksi hormon jadi tak stabil.


GANGGUAN HORMONAL

Untuk mengidentifikasi ketidakstabilan produksi hormon pada wanita, bisa dilihat dari siklus haid. Bila siklusnya berubah-ubah, ini merupakan salah satu indikasi terjadinya gangguan kestabilan hormonal.

Kondisi emosional yang terganggu akan menimbulkan impuls listrik di otak yang kemudian tersambung ke pusat hormonal yang juga berada di dalam otak. Akhirnya, pengeluaran hormonal jadi terganggu. Padahal, pengeluaran yang stabil sangat menentukan kematangan sel telur. Bila sel telur tidak matang, maka tidak dapat dibuahi oleh sperma, sebagai awal dari kehamilan.

Andaipun kondisi emosional yang tak stabil hanya terjadi sehari dalam sebulan,tetap saja berpengaruh pada kegagalan kehamilan.Proses pematangan berlangsung secara bertahap dalam satu bulan. Didukung dengan pengeluaran hormon hari demi hari. Jadi, hormon yang keluar harus selalu stabil setiap harinya. Bila sehari saja tak stabil akan mengacaukan pengeluaran hormon dan mengganggu proses pematangan sel telur.

Berbeda dengan wanita, proses pembentukan sperma pada lelaki tidak dipengaruhi kondisi emosionalnya. Meskipun saat itu emosinya sedang jelek, produksi tetap berlangsung dan mampu mematangkan diri sehingga bisa membuahi.


HINDARI STRESS

Untuk mengatasi masalah ini sebenarnya sangat mudah. Pasangan, terutama wanita, mau tidak mau harus berusaha mengatasi perasaan emosionalnya. Dengan begitu, kondisinya bisa stabil, stres bisa dihindari, dan diharapkan kematangan sel telur bisa dicapai dengan baik. Wanita yang sering mengalami gangguan haid, misalnya, biasanya akan ditelusuri, ada-tidaknya gangguan pikiran. Entah karena suami di-PHK, anak sakit-sakitan, tinggal dengan mertua, atau hal lain yang membuat haidnya tidak teratur. Penelusuran ini untuk mencari tahu sebab-musabab gangguan emosional yang terjadi.

Memang, sulit untuk mengontrol emosi apalagi bila banyak masalah. Mulai dari si kecil yang terus- menerus sakit, sulit makan, sering rewel, atau hal lain yang dapat memicu kesedihan, kekesalan, bahkan ketertekanan pada si ibu. Untuk memperingan, biasanya dokter memberi obat-obatan penambah hormon. Tetapi, tidak bisa menggantungkan masalah pada obat saja. Perlu usaha dari ibu untuk mengatasi ketidakstabilan emosionalnya.

Selain kondisi emosional si ibu harus baik, kesehatannya juga mesti prima. Sebab, sulitnya kehamilan kedua juga kerap dikarenakan gangguan infeksi di tempat jalannya sperma. Mulai dari vagina, rahim, hingga saluran sel telur. Tapi infeksi pada bagian-bagian tersebut bisa terjadi kapan saja. Baik sebelum atau sesudah kehamilan. Juga, setelah kehamilan anak pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya.

Bila ada yang mengaitkan terjadinya infeksi akibat perlukaan saat persalinan,bisa saja terjadi, tapi sangat kecil kemungkinannya. Meski si ibu melahirkannya di dukun beranak, kemungkinan infeksi di saluran lahir sangat kecil terjadi. Malah yang mungkin terinfeksi adalah si bayi, bukan ibunya.

Infeksi lebih mungkin terjadi karena ibu kurang memperhatikan kebersihan vaginanya. Mungkin setelah melahirkan perhatian kebersihan pada alat kelaminnya tersita oleh kehadiran si jabang bayi. Nah, dari situ bisa saja infeksi terjadi, dimulai dari vagina, merembet ke atasnya, yaitu mulut rahim, sehingga terjadi servisitis (infeksi pada rahim), merembet ke rahim, kemudian menjalar ke saluran telur. Baik saluran kiri maupun kanan. Ini disebut adnexitis (infeksi pada saluran telur).


DITIUP & OPERASI

Pada permulaan infeksi, di situ ada kuman juga sel darah putih. Sel darah putih berkumpul untuk melawan kuman penyebab infeksi. Sel darah putih ini adalah tentara bagi tubuh kita. Dia sebagai pertahanan untuk membasmi makhluk asing yang datang. Sperma pun dianggap sebagai makhluk asing sehingga akan dilawan dan dihabisi. Sehingga mau tidak mau akan mengurangi kapasitas si wanita untuk bisa terjadi pembuahan.

Seringnya, pada awal infeksi, tidak menimbulkan gejala sehingga yang bersangkutan tidak merasa kalau di alat reproduksinya terinfeksi. Bilapun terdeteksi, seringkali ibu mengobatinya tidak sampai tuntas. Akhirnya terjadi komplikasi semisal perlengketan di alat reproduksi. Ini jelas akan mengganggu fungsinya. Perlengketan pada saluran telur, akan mengganggu jalannya sperma untuk membuahi sel telur. Bisa saja terjadi pembuahan bisa, tapi nantinya akan menghambat sel telur yang sudah dibuahi (hasil konsepsi) berjalan menuju rahim untuk berkembang menjadi embrio. Hasil konsepsi berjalan menuju rahim, harus lewat saluran tersebut.Sehingga bisa terjadi kehamilan di luar kandungan.

Akibat infeksi ini pun bisa menyebabkan perubahan pada organ reproduksi sehingga si ibu mengalami infertilitas sekunder, yakni tidak bisa hamil untuk yang kedua, ketiga, dan selanjutnya.

Untuk mengatasinya, bila belum sampai menimbulkan komplikasi seperti perlengketan ringan di saluran telur, cukup dengan obat yang disemprotkan, istilah awamnya ditiup. Caranya dengan memasukkan obat lewat vagina, menembus rahim hingga sampai ke saluran telur. Diharapkan, saluran telur bisa terbuka. Tapi kalau infeksinya sudah kronis dan sudah menimbulkan komplikasi yakni perlengketan yang penyumbatannya sudah berat, perlu dilakukan pembedahan mikro untuk memperlebar saluran telur agar sperma maupun hasil konsepsi bisa melewatinya dengan mulus.

Demikian pula dengan organ reproduksi lain, selama infeksinya masih ringan, cukup dengan obat. Kalau sudah berat, seperti ada kelainan, perlu tindakan lebih lanjut, semisal operasi.


MENJAGA KEASAMAN VAGINA

Vagina bukanlah tempat yang steril. Di dalamnya terdapat banyak kuman. Yaitu kuman yang baik dan jahat. Kuman yang baik disebut basil doderline dan berfungsi menjaga keseimbangan di dalam vagina. Doderline menyebabkan vagina bersifat asam karena dia mengeluarkan zat-zat yang bersifat asam. Sifat asam ini biasanya tidak disukai oleh kuman yang jahat.

Bila keasaman vagina terjaga, keseimbangan antara kuman baik dan jahat pun senantiasa selaras dan infeksi bisa dihindarkan. Tapi kalau kuman jahat dapat tambahan dari luar, mungkin lewat hubungan seksual dengan pasangan yang tidak sehat kelaminnya, maka populasi antara kuman jahat dan baik tidak seimbang lagi.Karena musuhnya jadi lebih banyak, maka basil doderline kalah dan suasananya tidak asam lagi.

Terlalu sering mencuci vagina dengan pencuci khusus yang mengandung zat kimia pun,bisa membunuh doderline. Misalnya, vagina dicuci dengan sabun sembarangan yang rata-rata bersifat basa. Asam ditimpa basa, maka akan jadi netral, sehingga doderline pun mati. Sayangnya, orang sering salah kaprah, sering mencuci vagina dengan sabun. Mencuci vagina cukup dengan air bersih saja. Sesekali, boleh menggunakan pencuci vagina.


JARAK IDEAL 2 TH

Sebenarnya untuk memberi jarak antara kelahiran anak pertama dengan anak kedua, tergantung pada putusan pasangan yang menjalaninya. Idealnya beri jarak 2 tahun. Pertimbangannya, setelah melahirkan, semua organ kembali dianggap ke kondisi normal memakan waktu 2 tahun. Dengan begitu diharapkan kehamilan yang kedua tidak mengalami komplikasi karena kurang normalnya alat reproduksi.

Pertimbangan lain, agar si bayi dapat ASI yang cukup. ASI cukup didapat anak kira-kira sampai satu tahun. Nah, satu tahunnya lagi untuk mempersiapkan kehamilan berikutnya. Kehamilan merupakan beban yang sangat berat. Jadi, ibu harus siap betul untuk menjalaninya kembali.

Langkah langkah yang harus di lakukan adalah dengan diawali oleh pemeriksaan infertilitas dasar, yaitu pemeriksaan sperma dan roentgen saluran tuba ( HSG ). Setelah haid teratur dan pemeriksaan dasar infertilitas dipastikan normal, kita jalankan program hamil. Saat itu tentunya dengan bantuan dokter. Semoga berhasil.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar